Popular

Senin, 20 Agustus 2012

KOMA


Oleh : Rizal Tumewah

PENDAHULUAN

  • Sebagian kasus neurologi yang berat selalu disertai dengan gejala terganggunya kesadaran dan keadaan ini merupakan kasus kedaruratan neurologi.
  • Kesadaran dibidang neurologi berbeda dengan psikiatri. Dibidang neurologi kesadaran bersifat kuantitatif mis; seorang penderita stroke perdarahan kesadarannya bisa menurun sampai koma, sedangkan dibidang psikiantri bersifat kualitatif mis; seorang psikosis akan dinilai dengan istilah berkabut. Antara kedua bidang neurologi dan psikiatri terdapat suatu keadaan yang merupakan kombinasi yang disebut sindroma otak organik.
  • Ringkasnya koma merupakan keadaan gawat yang dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit. Menentukan penyebab, memberikan terapi kausal, terapi suportif serta perawatan umum yang adekuat merupakan kunci utama dalam menanggulangi penderita koma.

PENGERTIAN

Kesadaran:    Kemampuan mengenal dirinya dan  sekitarnya. Dapat bereaksi sepenuhnya dan adekwat terhadap rangsang visual, auditoar (bunyi) dan sensibel (nyeri).
Arousal (Waspada): 
                        Termasuk kesadaran normal/ sadar sepenuhnya dari berbagai stimuli dari pancaindra (aware) dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan baik dari luar maupun dalam (wakefulness =  alertness)
Koma ringan:
Penderita dapat dibangunkan dengan rangsang nyeri yang sedang antara lain: jarum, cubitan, tekan dasar kuku, tulang diatas mata dll.
Koma dalam:
Penderita tak memberi respons motorik apapun terhadap rangsang nyeri yang kuat, visual dan auditoar. Refleks-refleks batuk, fisiologis dan patologis hilang.

Koma harus dibedakan dengan:
1.      Tidur: A changed state of consciousness,  dengan ciri-ciri didapati; denyut nadi, frekwensi pernapasan dan tensi menurun; bola mata keatas; refleks tendon menghilang. Tidur secara fisik mirip koma, dapat dibangunkan dengan rangsang cukup.
2.      Anastesi: Waktu operasi terjadi penurunan kesadaran artifisial karena obat-obatan anastesi.
3.      Hipersomnia: Keadaan ngantuk berlebihan, sukar dibedakan dengan koma ringan.


Patofisiologi
·         Dalam otak manusia, dikenal serabut-serabut assosiasi primer dan sekunder yang menghubungkan pusat-pusat dalam otak yang mengalirkan berbagai fungsi luhur secara terkoordinasi dengan sangat baik.
·         Moruzi dan Magoun (1949) menemukan struktur anatomi yang bertanggung-jawab terhadap sistem pengelolah dan pengatur kesadaran. Bangunan tersebut terletak di bagian tengah batang otak dan memanjang ke hipotalamus dan talamus. Bangunan itu kemudian disebut dengan ARAS (’Ascending Retikular Activating System’) atau lazim disebut Formatio Reticularis atau Midbrain Reticular Formation = MRF.
Penelitian neurofisiologi membuktikan, jika ARAS dirusak akan terjadi koma yang ireversibel. Koma tidak timbul apabila dibuat lesi destruktif pada medula spinalis, medula oblongata, serebelum dan pons inferior.
·         Plum dan Posner (1989) menetapkan secara oprasional, dua pusat anatomi yang mengatur kesadaran adalah korteks serebri dan batang otak.
·         Posner (1922) mengemukan bahwa batang otak atau ARAS mengatur ”tinggi-rendah” kesadaran (on-off quality) sedang korteks serebri mengatur ”isi” (content) dari kesadaran. Secara fisiologik, keadaan bagian dari otak ini saling isi mengisi dan saling mengaktivasi (reciprocal activation and stimulation) yang mengatur secara optimal fungsi masing-masing.
·         Jadi kesadaran ditentukan oleh kondisi pusat kesadaran yang berada di kedua hemisfer serebri dan ARAS pada batang otak. Dimana terdapat neurotransmiter yang berperan pada ARAS antara lain kolinergik, monoaminergik dan GABA.
·         Mekanisme terjadinya koma (Satyanegara); Pusat pengontrolan terletak pada ARAS dan Hipotalamus serta juga diatur secara langsung atau tak langsung oleh seluruh korteks serebri (pusat kesadaran sekunder).
Pengontrolan tersebut diatur melalui 2 sistem yaitu:
1.      ”Ascending reticular”
2.      ”Hypothalamic activating”.
Apabila terjadi gangguan total maupun parsial dari mekanisme pengontolan ini, maka akan menyebabkan terjadinya gangguan kesadaran (sistem motorik dan sensorik)


Reactions:

0 comments:

Posting Komentar

mampir comment dulu sodara..