Popular

Senin, 17 Juni 2013

RESUSITASI JANTUNG PARU PADA KEHAMILAN

Tiberiu Ezri MD1,4, Shmuel Lurie MD2, Carolyn F. Weiniger MB CHB3, Abraham Golan MD FRCOG2 dan Shmuel Evron MD 1,4

Departemen 1 anestesi dan 2 Obstetrics & Gynecology, Wolfson Medical Center, Holon, berafiliasi dengan Sackler Fakultas Kedokteran, Universitas Tel Aviv, Ramat Aviv, Israel 3 Departemen Anestesiologi, University Medical Center Hadassah-Hebrew, Yerusalem, Israel 4 Hasil Research Consortium, Cleveland, Ohio, USA

           Henti jantung pada kehamilan adalah keadaan yang jarang ditemukan, terjadi pada 1:30.000 kelahiran [1]. Untuk menghindari terjadinya kematian karena henti jantung pada ibu hamil, maka dilakukan persalinan sesar demi menyelamatkan ibu dan bayinya [2]. "Lima menit merupakan waktu yang cukup lama untuk menyelamatkan ibu dan bayinya, saat ini adalah waktu dimana layanan kebidanan diharapkan mampu mengidentifikasi henti jantung pada ibu, dengan mulai melakukan resusitasi jantung-paru,dan jika curah jantung ibu tidak segera kembali normal, maka janin harus segera dilahirkan melalui operasi sesar." [3]. Kutipan ini merupakan saripati yang diambil dari kompleksitas dalam memberikan perawatan medis yang berkualitas tinggi dengan cepat dan efisien kepada pasien hamil yang menderita henti jantung.
           Setelah melakukan analisis dengan menggunakan kuesioner pada beberapa orang yang tidak disebutkan namanya, yaitu survei di antara dokter kandungan, anestesi dan bidan, Einav et al [4] menyimpulkan bahwa dokter spesialis yang kesehariannya menangani ibu hamil di rumah sakit memiliki pengetahuan yang terbatas tentang bagaimana menangani henti jantung pada ibu hamil. Oleh karena itu, Review ini dimaksudkan untuk memperbarui pengetahuan pembaca sehubungan dengan resusitasi jantung paru pada pasien hamil. kita memulai dengan presentasi singkat kasus nyata yang diikuti dengan tinjauan patofisiologi dan etiologi dari serangan jantung pada kehamilan, dengan penekanan khusus pada penyebab anestesi jantung-paru dan manajemen strategi. Sebuah deskripsi singkat tentang resusitasi jantung paru dalam kehamilan juga disertakan, dan pentingnya persalinan darurat yang dilakukan melalui histerotomi atau sesar.

 
 LAPORAN KASUS

            Seorang wanita berusia 35 tahun dengan kehamilan 38 minggu, tampak sehat, dirujuk oleh dokter keluarganya karena kurangnya nafsu makan selama seminggu terakhir dan suasana hati yang berubah. Anak laki-lakinya berusia 15 tahun mengatakan bahwa ibunya tiba-tiba menjadi depresi dan hanya berada di rumah selama seminggu terakhir. Kesulitan berkomunikasi dikaitkan dengan status imigran barunya di Israel. Ibunya terlihat sangat lelah dengan suasana hati yang kurang baik. Pada tahap ini tidak ada diagnosis yang spesifik. Setelah masuk ke rumah sakit, tanda-tanda vital stabil: tekanan darah 120/70 mmHg, tekanan nadi 70 kali/ menit dan saturasi oksigen 98%. Denyut jantung janin juga normal. Dia tidak pernah mengeluh sakit dalam setiap persalinannya. Anestesiologi diminta untuk berkonsultasi dengannya mengenai analgesia epidural untuk persalinannya, saat itu pasien terlihat bingung dan tidak kooperatif, dan sekitar 10 menit setelah penggalian riwayat pasien dan pemeriksaan fisis, pasien tiba-tiba mengalami asistole. Keadaan ini disertai dengan bradikardia janin yang parah. Resusitasi jantung paru dilakukan dalam posisi miring kiri, dilakukan segera oleh residen anestesi dan dokter kandungan. Ruang Operasi telah dipersiapkan untuk persalinan sesar darurat. Posisi miring kiri dicapai dengan selimut digulung dan ditempatkan di bawah pinggul kanan pasien dan pada daerah lumbal.
        Dokter kandungan senior, anestesi dan neonatologis tiba di lokasi dalam waktu 2 menit. Trakea pasien diintubasi saat menerima pijat jantung pada tekanan nadi 100 kali/menit, napas 10 kali/menit, dan diberikan dua bolus intravena dari  tiap 1 mg atropin dan epinefrin. Sirkulasi spontan dan tekanan darah normal setelah 2 menit dilakukan resusitasi jantung paru, tetapi pasien tetap tidak sadar dengan kedua pupil melebar dan tidak bereaksi terhadap cahaya. Sekitar 5 menit setelah didiagnosis henti jantung, dilakukan persalinan sesar darurat. Pasien tetap tidak berrespon (tidak ada gerakan, tidak ada perubahan dengan denyut jantung dan tekanan darah) terhadap respon pembedahan. Pasien tidak menerima anestesi dan hanya diberikan fentanil 100 ug IV untuk analgesia, tanpa muscle relaxant. Bayi dilahirkan dengan skor apgar 4/6 dan pH 7 dan kondisinya berangsur-angsur membaik. Setelah persalinan sesar, ibu tetap tidak berrespon, dengan Glasgow Coma Scale 3. CT scan otaknya  menggambarkan  edema otak difus yang berat. Pasien diobati dengan hiperventilasi ringan, manitol, dan istirahat dalam posisi setengah telentang dengan pemberian oksigen untuk tetap menjaga saturasi oksigennya di atas 98%. Beberapa otak yang mengalami edema dan tumor otak yang berherniasi dibagian frontal telah ditemukan. Tumor tersebut bersifat inoperable dan pasien meninggal 5 hari kemudian.
         Kasus ini menekankan bahwa keterampilan resusitasi jantung paru mungkin diperlukan pada persalinan yang terjadi secara tiba-tiba dengan kasus henti jantung yang melibatkan penanganan cepat dan benar,  yaitu mencakup kelahiran sesar dan pengobatan penyebab mendasari terjadinya henti jantung [3,4]. 

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar

mampir comment dulu sodara..